Alat pemicu peledakan

alat pemicu peledakan


1. Tujuan khusus

Setelah mempelajari materi ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan tentang:  

a.    Tipe dan jenis alat pemicu peledakan listrik dan non-listrik (nonel)

b.    Cara pengoperasian alat pemicu peledakan secara aman

c.    Alat pendukung peledakan listrik

 mining

2. Alat pemicu peledakan listrik

Alat pemicu pada peledakan listrik dinamakan blasting machine (BM) atau explodermerupakan sumber energi penghantar arus listrik menuju detonator. Cara kerja  BM pada umumnya didasarkan atas penyimpanan atau pengumpulan arus pada sejenis kapasitor dan arus tersebut dilepaskan seketika pada saat yang dikehendaki. Pengumpulan arus listrik dapat dihasilkan malalui:

1)    Gerakan mekanis untuk tipe generator, yaitu dengan cara memutar engkol (handle) yang telah disediakan (contoh Gambar 1.1.a). Putaran engkol dihentikan setelah lampu indikator menyala yang menandakan arus sudah maksimum dan siap dilepaskan. Saat ini tipe generator sudah jarang digunakan.

2)    Melalui baterai untuk tipe kapasitor, yaitu dengan cara mengontakkan kunci kearah starter dan setelah lampu indikator menyala yang menandakan arus sudah terkumpul maksimum dan siap dilepaskan (Gambar 1.1.b dan 1.1.c).

 

Arus yang dilepaskan harus dapat mengatasi tahanan listrik di dalam rangkaian peledakan. Untuk itu perlu diketahui benar kapasitas BM yang akan digunakan jangan sampai kapasitasnya lebih kecil dibanding tahanan listrik seluruhnya. Tahanan rangkaian listrik harus diukur atau dihitung terlebih dahulu dan harus dijaga jangan sampai terdapat kebocoran arus karena terdapat kawat terbuka yang berhubungan dengan tanah, air atau bahan lain yang bersifat konduktor. Pabrik pembuat BM, misalnya buatan Nissan, biasanya mencantumkan jumlah detonator masimum yang mampu diledakkan oleh BM tersebut, misalnya T50, T100, T200, T300, dan T500. Angka menunjukkan jumlah detonator yang mampu diledakkan oleh BM tersebut.

Beberapa jenis dan tipe pemicu ledak listrik dan keterangannya

Prosedur penggunaan alat pemicu ledak listrik (BM) untuk seluruh tipe seperti pada Gambar 1.1 adalah sama, yaitu:

1)    Informasi dahulu tentang pelaksanaan peledakan ke sekitar lokasi peledakan melalui corong mikropon atau handy- talky (HT) dan yakinkan bahwa situasi benar-benar aman.

2)    Hubungkan dua kawat utama atau lead wire dari rangkaian peledakan masing-masing ke kutub listrik yang ada pada alat pemicu ledak.

3)    Ikat kuat kawat pada masing-masing kutub dengan memutar sekrupnya.

4)    Isilah kapasitor sesuai prosedur yang disarankan oleh pabrik pembuat alat pemicu ledak. Misalnya, bila menggunakan tipe generator (Gambar 1.1.a) putarlah engkol sampai kapasitor terisi penuh dan bila menggunakan tipe baterai (Gambar 1.1.b dan 1.1.c) putarlah kunci kontak kearah kanan dan tahan beberapa saat sampai kapasitor penuh. Lampu indikator akan menyala bila kapasitor penuh.

5)    Bila menggunakan tipe generator (Gambar 1.1.a), tekanlah tombol yang tersedia, maka arus akan dilepaskan dan rangkaian peledakan akan meledak; dan bila menggunakan tipe baterai (Gambar 1.1.b dan 1.1.c) putar kunci ke arah kiri sampai titik yang ditentukan, maka arus akan dilepaskan dan rangkaian peledakan akan meledak.

 

3. Alat pemicu peledakan non-listrik

Alat pemicu non-listrik (nonel) dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu penyulut sumbu api dan pemicu nonel atau starter non-electric. Untuk penyulut sumbu api telah diuraikan pada  Modul 2, Pembelajaran 2 tentang Sumbu dan Penyambung Pada Peledakan, khususnya tentang Cara Penyulutan Sumbu Api. Selanjutnya alat pemicu sumbu api tidak akan diuraikan lagi dan yang akan dibahas berikut ini adalah tentang alat pemicu non-listrik.

 

Alat pemicu nonel (starter non-electric) dinamakan shot gun atau shot firer atau shot shell primer. Seperti diketahui bahwa sumbu nonel mengandung bahan reaktif  (HMX) yang akan aktif atau terinisiasi oleh gelombang kejut akibat impact.  Alat pemicu nonel dilengkapi dengan peluru yang disebut shot shell primer dengan ukuran tertentu (untuk buatan ICI Explosives berukuran No. 209). Shot shell primer diaktifkan oleh pemicu, yaitu pegas bertekanan tinggi yang yang terdapat di dalam alat pemicu nonel. Beberapa tipe alat pemicu nonel terlihat pada Gambar 1.2 dan 1.3 masing-masing buatan ICI Explosives dan Nitro Nobel. Pada Gambar 1.2 terlihat bahwa alat pemicunya menggunakan striker yang disisipkan di bagian atas barrel, kemudian transmisi impact melalui shot shell primer ke sumbu nonel menggunakan hentakkan kaki. Sedangkan pada Gambar 1.3 alat pemicu nonel digenggam dan untuk melepas pegas di dalam alat pemicu agar shot shell primer mentransmisikan impact ke sumbu nonel dengan cara dipukul.

 

Prosedur penggunaan alat pemicu ledak nonel untuk seluruh tipe seperti pada Gambar 1.2 dan 1.3 adalah sebagai berikut:

1)    Informasi dahulu tentang pelaksanaan peledakan ke sekitar lokasi peledakan melalui corong mikropon atau handy- talky (HT) dan yakinkan bahwa situasi benar-benar aman.

2)    Sisipkan lead-in line atau extendaline atau “sumbu nonel utama” ke dalam lubang yang tersedia pada alat pemicu ledak nonel.

3)    Masukkan shot shell primer ke dalam lubang yang tersedia, kemudian tutup olehstriker dan siap diledakkan.

4. Alat bantu peledakan listrik

Peledakan listrik memerlukan alat bantu agar peledakan listrik berlangsung dengan aman dan terkendali. Alat bantu berfungsi sebagai pengukur tahanan, pengukur kebocoran arus, detektor petir, dan kawat utama atau lead wire atau lead lines ataufiring line.

 

a.      Pengukur tahanan (Blastometer atau BOM)

Alat pengukur tahanan kawat listrik untuk keperluan peledakan dibuat khusus untuk pekerjaan peledakan dan tidak disarankan digunakan untuk keperluan lain. Sebaliknya, alat pengukur tahanan yang biasa dipakai oleh operator listrik umum, yaitu multitester, dilarang digunakan untuk mengukur kawat pada peledakan listrik. Ruas kawat yang harus diukur tahanannya adalah seluruh legwire dari sejumlah detonator yang digunakan, connecting wirebus wire, dan kawat utama. Dengan demikian jumlah tahanan seluruh rangkaian dapat dihitung dan voltage BM dapat ditentukan setelah arus dihitung.

 

Cara pengukuran tahanan ruas kawat menggunakan blastometer (BOM) pada prinsipnya sama, hanya pada pengukuran legwire perlu ekstra hati-hati.  Prosedur pengukuran adalah sebagai berikut:

1)    Untuk kawat penyambung (connecting wire), bus wire, dan kawat utama:

ð  Kedua ujung kawat dihubungkan pada sepasang terminal yang tersedia pada BOM, kemudian kencangkan.

ð  BOM dikontakkan, biasanya dengan menekan tombol, sehingga jarum menunjukkan angka tertentu, yaitu nilai tahanan kawat tersebut.

ð  Catat angkanya sebagai data hasil pengukuran tahanan

2)    Untuk legwire pada detonator listrik:

ð  Kedua ujung legwire dari detonator dihubungkan pada sepasang terminal yang tersedia pada BOM, kemudian kencangkan.

ð  BOM dikontakkan, biasanya dengan menekan tombol, sehingga jarum menunjukkan angka tertentu, yaitu nilai tahanan legwire dan kawat pijar (bridge wire) di dalam detonator tersebut. Apabila jarum tidak bergerak, berarti detonator rusak dan jangan dipakai, sebab ada kemungkinan kawat pijar dalam fusehead putus. 

ð  Bila jarum bergerak, catat angkanya (biasanya sekitar 1,5 ohms) sebagai data hasil pengukuran tahanan.

a. Blastometer 80 buatan ICI Explosives dapat meng-ukur tahanan antara 0–30 ohms dan 0 – 300 ohms. Diproteksi oleh plastik yg dicetak dan kokoh. Ukuran 95 x 140 x 60 mm, berat 500 gr.


b. Blastometer digital model 104 buatan Thomas Instru-ments, Inc. Diproteksi oleh bahan yang tidak mudah pecah. Ukuran 76 x 76 x 38 mm, berat 340 gr

b.      Pengukur kebocoran arus

Adanya kebocoran arus dapat terjadi akibat adanya kawat yang tidak terisolasi, misalnya pada sambungan, yang kontak dengan air, tanah basah, atau batuan konduktif. Kontak tersebut dapat menghentikan arus menuju detonator, sehingga detonator tidak meledak dan dapat menyebabkan gagal ledak.

 

Salah satu alat ukur kebocoran arus yang efektif adalah AECI Digital Earth Leakage Tester LT-02 seperti terlihat pada Gambar 1.5. Alat ini dapat mengukur tahanan antara 0 – 19,99 kohms ( 0 – 19.990 ohms) dengan skala 10 ohm dan menggunakan tenaga baterai 9 volts. LT-02 sangat bermanfaaat untuk memeriksa peledakan yang luas dengan menggunakan banyak detonator. Terutama untuk memeriksa adanya gagal ledak pada peledakan pillar, massa batuan, dan peledakan dengan baris yang banyak (multi row) pada tambang terbuka. Bila keadaan tidak segera diatasi atau diperiksa, maka akan menghambat laju produksi secara serius karena kelambatan peledakan. Ukurannya 103 x 72 x 33 mm dengan berat 250 gr.

c.      Multimeter peledakan

Multimeter peledakan disebut juga Blasting Multimeter adalah instrumen penguji yang sekaligus dapat mengukur tahanan, voltage, dan arus. Alat multimeter peledakan dirancang khusus untuk keperluan peledakan dan berbeda dengan multimeter untuk keperluan operator listrik umum. Kegunaan multimeter peledakan adalah:

ð  Mengukur tahanan sebuah kawat detonator dan tahanan suatu sistem rangkaian peledakan listrik,

ð  Memeriksa ada-tidaknya arus tambahan di lokasi peledakan,

ð  Mengukur kebocoran arus antara kawat detonator (legwire) dengan bumi,

ð  Memeriksa kemenerusan (kontinuitas) dan ada-tidaknya arus pendek pada kawat utama, connecting wire, dan legwire pada detonator

multimeter digital buatan Thomas Instruments model-109 disamping dapat mengukur tahanan, arus dan voltage juga mampu memeriksa arus liar. Ketelitian pembacaan mencapai 0,1% dan dapat dioperasikan pada cuaca antara ─19,5° - 70° C. Alat ini beroperasi dengan tenaga baterai 9 volt.

 

d.      Rheostat dan Fussion tester

Alat ini digunakan untuk menguji efisiensi blasting machine (BM) tipe generator maupun kapasitor dalam mengatasi tahanan sejumlah detonator . Alat ini terdiri dari suatu seri resistor (coils) dengan tahanan yang berbeda. Setiap tahanan ditandai dengan nilai ohms tertentu yang ekuivalen dengan sejumlah detonator listrik yang memiliki panjang legwire tembaga 30 ft (±10 m). Pengujian efisiensi BM dilakukan sebagai berikut (lihat Gambar 1.7):

1)    Ambil sejumlah detonator listrik dan hubungkan secara seri,

2)    Salah satu kabel dari detonator dihubungkan dengan nilai ohm rheostat yang ekuivalen dengan jumlah detotanor tersebut,

3)    Hubungkan salah satu kawat detonator lainnya ke BM,

4)    Hubungkan rheostat dengan BM,

5)    Pengujian dimulai dengan mengontakkan BM, bila seluruh detonator meledak, maka output dari BM cocok digunakan untuk peledakan seri dari sejumlah detonator pada tahanan yang sama.

e.      Detektor kilat (lightning detector)

Peledakan listrik sangat rawan terhadap udara mendung atau pada daerah-daerah yang memiliki intensitas kilat dan petir cukup tinggi. Debu dan badai listrik yang tinggi melebihi listrik statis pada atmosfir ditambah dengan petir sangat berbahaya terhadap operasi peledakan. Untuk membantu pemantauan awal terhadap fenomena tersebut diperlukan detektor kilat. Gambar 1.8 memperlihatkan contoh alat detektor kilat yang mampu mengukur gradient voltage listrik pada atmosfir. Alat dan akan memberikan tanda dalam bentuk lampu berkedip atau bunyi sirine apabila gradien voltage listrik atmosfir menunjukkan angka kritis atau melebihinya.

f.       Kawat utama (lead wire)

Kawat utama termasuk pada peralatan peledakan, karena dapat dipakai berulang kali. Berbeda dengan lead-in line atau extendaline atau “sumbu nonel utama” pada peledakan nonel akan langsung rusak dan tidak boleh dipakai lagi karena HMX yang terdapat didalamnya sudah bereaksi habis, walaupun sumbunya tetap nampak utuh. Kawat utama berfungsi sebagai penghubung rangkaian peledakan listrik dengan alat pemicu ledak listrik atau blasting machine. Ukuran untuk peledakan pada kondisi normal adalah kawat tembaga ganda berukuran 23/0,076 yang diisolasi dengan plastik PVC dengan tahanan 5,8 ohms per 100 m. Atau dapat pula digunakan kawat tembaga ganda berukuran 24/0,20 mm dengan tahanan 4,6 ohms per 100 m. Untuk pekerjaan peledakan yang berat (heavy duty) dipakai kawat tembaga berukuran 70/0,76 mm dengan isolasi plastik PVC berwarna kuning (buatan ICI Explosives) mempunyai tahanan 1,8 ohms/100 m. Atau dapat dipakai kawat tembaga 50/0,25 mm dengan tahanan 1,4 ohms/100 m.

5. Rangkuman

a.    Alat pemicu ledak dibagi ke dalam dua bagian, yaitu alat pemicu ledak listrik dan non-listrik (nonel).

b.    Pemicu ledak listrik menggunakan alat yang dinamakan blasting machine (BM) atau exploder yang dilengkapi dua terminal (kutub) listrik positif dan negatif. Secara umum cara kerja BM adalah mengumpulkan arus listrik yang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu gerakan mekanis dengan memutar engkol (handle) untuk tipe generator dan menggunakan baterai yang bisa diganti-ganti untuk tipe kapasitor.

c.    Sedangkan pemicu ledak nonel terbagi dua bagian, yaitu menggunakan penyulut api yang menghasilkan bara api untuk membakar sumbu api dan shotgun ataushotfirer untuk menginisiasi sumbu nonel.

d.    Untuk memperlancar peledakan listrik diperlukan alat pendukung, yaitu alat pengukur tahanan (blastometer atau BOM), alat pengukur kebocoran arus listrik, multimeter peledakan, pengukur efisiensi kerja blasting machine, alat detektor petir dan kawat utama (lead wire). Alat pendukung harus dipersiapkan untuk menjamin keselamatan dan keamanan kerja peledakan listrik.

Alat pencampur bahan peledak

Bahan yang dicampur biasanya agen peledakan. Bila ANFO dipergunakan sebagai agen peledakan, maka diperlukan alat untuk mencampur AN dan FO. Alat yang paling sederhana adalah penakar kedua bahan tersebut dan tempat untuk mengaduk bahan-bahan tersebut menjadi campuran yang homogen. Ada yang menggunakan alat pencampur bahan cor (semen, pasir dan air), yaitu concrete mixer atau “molen”, sebagai alat untuk mencampur AN dan FO. Alat tersebut cukup baik untuk menghasilkan campuran yang homogen, namun pelaksanaannya harus penuh kehati-hatian, sebab “molen” tidak dirancang untuk mengaduk bahan peledak. Alat pencampur bahan peledak harus memenuhi beberapa persyaratan, sebab hasilnya berupa bahan peledak kuat yang berbahaya bagi keselamatan kerja. Persyaratan tersebut yaitu:

ð  Bahan yang kontak dengan AN terbuat dari stainless-steel atau diberi lapisanepoxy.

ð  Pada waktu bekerja tidak menimbulkan panas yang berlebih atau listrik statis.

 

Gambar 2.1 memperlihatkan alat pencampur bahan peledak ANFO yang dinama-kanCoxan ANFO Mixer. Alat ini dirancang untuk mencampur AN dan FO dengan perbandingan 94%:6% dengan cara kerja sebagai berikut:

1)    Butiran AN dimasukkan ke corong (hopper) yang dilengkapi dengan saringan. Saringan ini diperlukan karena kadang-kadang terdapat AN yang menggumpal, sehingga gumpalan dan butiran AN dapat dipisahkan. Gumpalan AN yang tertinggal di atas saringan dikeluarkan atau kalau memungkinkan dapat dipukul-pukul di atas saringan agar hancur menjadi butiran dan langsung masuk kedalam corong. Kapasitas corong butiran AN sekitar 70 kg.

2)    Fluida FO (solar) dialirkan melalui pipa yang tersedia dibagian bawah alat dan mengalir dengan kecepatan konstan.

3)    Butiran AN turun dengan kecepatan konstan dan FO mengalir dengan kecepatan konstan pula; dengan demikian, maka ANFO yang keluar melalui pipa saluran pengeluaran (extruder) pun akan mempunyai kecepatan konstan juga. Perbandingan 94% AN dan 6% FO diperoleh melalui perbedaan kecepatan konstan antara turunnya AN dan aliran FO.

 

lat Coxan ANFO Mixer dapat dioperasikan tangan atau tenaga listrik. Bila dioperasikan tangan, maka dipasang engkol di bagian ujung pipa pengeluaran produk ANFO dan laju pengeluaran ANFO bisa mencapai 1000 kg/jam. Sedangkan bila dioperasikan oleh tenaga listrik, diperlukan energi 1100 watt, dan laju produk ANFO antara 40 – 100 kg/menit.

 

3. Alat pengisi lubang ledak

Pengisian lubang ledak dapat dilakukan secara manual atau menggunakan alat bantu mekanis. Cara pengisian dibedakan berdasarkan diameter lubang ledak dan  untuk alasan tersebut lubang ledak dikelompokkan menjadi:

ð  Diameter “Kecil”                   : < 50 mm (2”)

ð  Diameter “Sedang”              : 50 – 100 mm (2” – 4”)

ð  Diameter “Besar”                 : > 100 mm (4”)

Cara pengisian manual maksudnya bila dilaksanakan langsung dengan cara dicurah ke dalam lubang ledak. Untuk membantu pemadatan digunakan tongkat panjang terbuat dari bambu atau bahan non-konduktor lainnya yang disebut tamping rod. Sedangkan cara mekanis bila menggunakan alat bantu pengisian pneumatik, misalnya pneumatic cartridge charger dan ANFO loader, yang biasanya diterapkan pada pengisian lubang miring atau ke arah atas. Sedangkan alat mekanis untuk lubang ledak berdiameter “besar” digunakan Mobile Mixer/ Manufacturing Unit (MMU) yang multi-guna, karena dapat berfungsi sebagai pengangkut, pencampur dan sekaligus pengisi.

 

a.      Pengisian lubang berdiameter “kecil”

Lubang ledak berdiameter “kecil” biasanya mempunyai kedalaman terbatas yang umumnya diterapkan pada penambangan skala kecil. Pengisian dilaksanakan dengan cara manual, bila menggunakan agen peledakan ANFO langsung dicurah dan bila berbentuk cartridge langsung dimasukkan satu per satu ke dalam lubang ledak. Pemadatan bahan peledak digunakan alat tamping rod. Untuk lubang miring atau mengarah ke atas (stopper), pada tambang bawah tanah, biasanya dibantu alat pengisian pneumatik (lihat Gambar 2.2).

 

ANFO loader pada Gambar 2.2.a adalah salah satu jenis pengisi lubang ledak dengan bahan peledak ANFO. Alat ini terdiri dari tangki konis terbuat dari baja dan bertekanan serta klep bola yang mengatur tekanan menuju selang pengisi berdiameter antara 50 – 75 mm. Tekanan udara tambahan (secondary air pressure) dapat dimasukkan melalui pipa di bagian bawah alat untuk menambah tekanan ke selang pengisi. Cara kerja alat ini adalah sebagai berikut:

1)    ANFO dicurah melalui corong di bagian atas ke tangki konis.

2)    Corong ditutup rapat dan kuat.

3)    Klep bola dibuka perlahan-lahan sampai tekanan untuk mengeluarkan ANFO melalui selang pengisi memuaskan. Besar tekanan akan sangat tergantung pada densitas ANFO. Alat ini dirancang untuk ANFO dengan densitas sampai 0,95 gr/cm³.

 

Laju pengisian disamping tergantung pada densitas ANFO juga pada panjang selang yang dipasang dan besar tekanan tambahan. Untuk pemakaian normal, tekanan di dalam corong sekitar 175 – 200 kPa (2 – 3 atm). Dalam kondisi tersebut laju pengisian bisa mencapai 45 kg/menit untuk panjang selang sampai 50 m. Alat ini dirancang untuk kapasitas ANFO mulai 17 kg, 25 kg, 45 kg, 100 kg, 200 kg dan 250 kg.

 

Pneumatic cartridge charger pada Gambar 2.2.b adalah alat pengisi lubang ledak dengan bahan peledak cartridge, khususnya cartridge berbasis emulsi, misalnya powergel. Alat ini sangat efektif bila digunakan pada lubang ledak kecil yang berukuran antara 57 – 76 mm (2” – 3”) dengan kedalaman 58 m untuk lubang kering dan 15 m bila lubang berair. Sangat cocok digunakan untuk pengisian lubang ledak ke arah miring atau ke atas pada tambang bawah tanah. Tekanan udara yang dialirkan melalui selang mampu memberikan pemadatan, sehingga densitas bahan peledak di dalam lubang ledak bertambah antara 20% - 40% dibanding dengan pemadatan secara manual (dengan tangan biasa). Besarnya tambahan densitas tersebut tergantung pula pada besar tekanan udara yang dialirkan. Alat ini dirancang untuk bahan peledak cartridge berbasis emulsi, namun dengan memperhatikan segala kemungkinan yang berkaitan dengan keselamatan kerja dapat pula digunakan untuk bahan peledak cartridge berbasis nitroglyserin.

b.      Pengisian lubang berdiameter “sedang”

Pengisian lubang ledak berdiameter “sedang” dapat dilakukan secara manual menggunakan tempat yang ukuran volumenya tertentu, misalnya menggunakan ember plastik, agar dapat mengisi lubang ledak dengan tepat sesuai perhitungan (lihat Gambar 2.3). Pada proses ini diperlukan selang (hose) berskala untuk mengukur batas kedalaman bahan peledak agar tidak melewati batas kedalaman penyumbat (stemming). Disamping itu, yang perlu diperhatikan adalah legwire atau sumbu nonel atau sumbu ledak harus ditahan agar jangan sampai jatuh dan ke dalam lubang dan terkubur bahan peledak. Pemadatan dilakukan dengan memakai tamping rod yang biasanya dilakukan bersamaan dengan proses pengisian agen peledakan.

 

Pada tambang bawah tanah, baik pembuatan terowongan atau pekerjaan penam-bangan, pengisian lubang ledak secara manual hanya dapat dilakukan ke arah samping (drifter) atau bawah (sinker), sedangkan ke miring (inclined) atau atas (stopper) harus menggunakan alat bantu seperti pada Gambar 2.2.a.atau 2.2.b. Apabila masih memungkinkan pemadatan manual ke arah samping dapat digunakan tongkat pendorong non-konduktor seperti terlihat pada Gambar 2.4 dan 2.5. Karena dengan alat sederhana ini pelaksanaan peledakan menjadi lebih cepat dan biaya pun dapat dikurangi.

c.      Pengisian lubang berdiameter “besar”

Pengisian lubang ledak berdiameter besar biasanya dilakukan oleh perusahaan penambangan skala besar dengan jumlah produksi mencapai ratusan ribu ton atau m³, sehingga memerlukan bahan peledak cukup banyak. Untuk itu diperlukan lubang ledak yang banyak pula. Apabila pengisian lubang ledaknya dilakukan secara manual tentu tidak akan efektif dan efisien, sehingga diperlukan sentuhan teknologi pengisian lubang ledak. Saat ini pengisian lubang secara mekanis menggunakan Mobile Mixer/Manufacturing Unit (MMU) pada penambangan skala besar sudah banyak dilakukan. Walaupun biaya pengisian lubang ledak secara mekanis cukup tinggi, namun jumlah produksi yang besar sudah diperhitungkan mampu mengatasi biaya tersebut. Dengan demikian untuk penambangan skala besar, pengisian lubang ledak secara mekanis cukup ekonomis ditinjau dari aspek produksi maupun biaya.

Hampir semua perusahaan jasa peledakan memiliki MMU dan salah satunya seperti terlihat pada Gambar 2.6 dan 2.7. Setiap MMU umumnya terdiri dari tiga kompartemen yang bermuatan butiran ammonium nitrat (AN), bahan bakar (solar), dan emulsi. Emulsi telah dibuat di pabrik pembuatan emulsi yang biasanya berlokasi dekat dengan gudang bahan peledak. Melalui tiga komparteman tersebut dapat diramu beberapa jenis bahan peledak sesuai dengan kondisi batuan dan terlebih dahulu dibuat kesepakatan antara pemberi jasa peledakan dengan konsumen. Diantara jenis bahan peledak yang dapat diramu adalah ANFO dan heavy-ANFO (campuran ANFO dengan emulsi). Bahan peledak ANFO diramu dengan mengeluarkan AN dan solar dari kompartemennya secara otomatis  dengan perbandingan 94,5% AN dan solar 5,5% berat. Demikian juga halnya dengan heavy-ANFO dikeluarkan dari kompartemennya dengan perbandingan tertentu pula (lihat Modul 1, Pengenalan Bahan Peledak, tentang bahan peledak heavy-ANFO). Cara pengeluaran jenis bahan peledak dari MMU tergantung pada viskositasnya. Berikut ini adalah jenis bahan peledak dan cara pengeluarannya:

ð  ANFO dikeluarkan menggunakan sistem ulir (auger)

ð  Heavy-ANFO dengan emulsi kurang dari 60% dapat mengunakan auger

ð  Heavy-ANFO dengan emulsi lebih dari 60% mengunakan pompa.

Oleh sebab itu, setiap MMU harus dilengkapi dengan alat pengeluaran yang mampu mengalirkan bahan peledak sesuai dengan viskositasnya ke dalam lubang ledak dengan kecepatan yang terukur. Gambar 2.8 menunjukkan sketsa MMU buatan Dyno Westfarmers yang menunjukkan susunan kompartemen dan bagian-bagian penting lainnya.


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar